Media Informasi & Komunikasi Warga Arya Wang Bang Pinatih

 Melarapang Mahasabha ka Pratama Ngiring Icapang Karaketan Pasemetonan lan Sradha Bhakti Warga Arya Wang Bang Pinatih Nyujur Jagadhita 

VII. 15. Kyai Pinatih Berpindah Tempat Dari Kerthalangu

Sesudah satu bulan tujuh hari lamanya, datanglah ciri Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi didatangi semut tak terhitung banyaknya merebut, ada dari bawah, dari atas, jatuh berkelompok ? kelompok. Itu sebabnya merasa gundah hati Kyai Anglurah Agung Pinatih beserta para isteri, putra, cucu semuanya. Karena demikian
keadaannya, kemudian diadakan pertemuan dengan sanak saudara semuanya, berencana akan berpindah dari Purian, menuju Pura Dalem Paninjoan. Sesampainya disana, kemudian diberitahukan semua rakyatnya untuk membuat Taman dikitari dengan telaga, telaga itu dikelilingi api, ditengahnya telaga barulah dibangun tempat peraduan. Namun masih saja dicari, direbut oleh semut, berbukit ? bukit tingginya kemudian jatuh di tengahnya taman itu.
Karena itu halnya, kembali Kyai Agung Pinatih menyelenggarakan pertemuan, bertukar pikiran dengan saudaranya semua serta didampingi oleh rakyatnya. Semuanya merasa masgul, kemudian meninggalkan Pura Dalem Paninjoan, berpindah lalu berdiam diri di sebelah timur sungai, diiringi rakyatnya semua. Tentu saja Kyai Anglurah Agung Pinatih berpikir tentang kedigjayaan sira Dukuh. Kemudian beliau merencanakan akan berpindah dari tempat itu, serta diberitahukan kepada balanya, siapa yang sanggup menjaga Pura Dalem itu, boleh tidak mengiringkan Kyai Anglurah Pinatih. Kemudian segera matur anggota masyarakat beliau yang bernama Ki Bali Hamed, ia akan menuruti kehendak beliau untuk menjaga Pura? Dalem itu. Pada saat itu I Gusti Tembawu menyatakan tidak bisa mengikuti keinginan ayahandanya, demikian juga I Gusti Ngurah Kepandeyan, yang pernah berpaman dengan I Dukuh, dan karena memang tidak baik dalam hubungan bersanak saudara, karena sudah terlanjur bertempat tinggal disana serta memperoleh kebaikan di wilayah Intaran. Usai sudah perbincangan diadakan, kemudian diputuskan hubungan pasidikaraan dengan I Gusti Tembawu dan I Gusti Kepandeyan.
Disebabkan karena masih juga diburu oleh semut, kembali beliau beralih tempat bersama menuju Geria milik Ida Peranda Gde Bendesa dan di tempat tinggal Ida Peranda Gde Wayan Abian, seperti para putranya semua, yang ada di Kerthalangu, ke Padanggalak, disana Kyai Anglurah Agung Pinatih bertempat tinggal diiringi rakyatnya semua.

Penuh sesak disana di pinggir sungai Biaung, disana Kyai Anglurah Agung Pinatih menghaturkan rakyat 60 KK kepada Ida Peranda berdua. Ida Peranda berdua merasa senang hati mendapatkan warga itu semua yang handal didapatkan oleh beliau Ida Peranda, yang bernama Ki Bendesa Kayu Putih, Macan Gading, I Pasek Kayu
Selem, semua bertempat tinggal di Tangtu. Di sana kemudian ada perjanjian Kyai Anglurah Agung Pinatih di hadapan Ida Peranda berdua, menyatakan sudah putus hubungan kekeluargaan dengan I Gusti Tembawu, sebab sudah berumah di I mangku Dalem Tembawu.
Karena demikian yang didengar oleh I Mangku Dalem Tembawu lalu dibalaslah pernyataan Kyai Anglurah Agung Pinatih. Katanya :

?Mudah ? mudahanlah yang membawa pusaka keris yang bernama I Brahmana serta tumbak yang bernama I Baru Gudug, pada saat menyelenggarakan upacara ala ataukah ayu, jika tidak ada I wong Tembawu, mudah ? mudahan tidak berhasil upacara itu?.

Dibalaslah oleh Kyai Anglurah Agung Pinatih :
?Mudah ? mudahab I wong Tembawu itu kaya dengan pekerjaan?. Demikian pernyataan Kyai Anglurah Agung pinatih.
Kemudian I Gusti Tembawu dipakai menantu oleh I Mangku Dalem Tembawu. Setelah itu Kyai Anglurah Agung Pinatih disertai oleh adiknya serta sanak saudaranya semua memohon kepada Ida Peranda berdua, akan membangun Panyiwian di ujung desa Biaung, dinamai Pura Dalem Bangun Sakti, disungsung oleh rakyatnya yang ada si Biaung. Ida Peranda berdua dengan senang hati memberikan restu untuk hal itu. Disana kemudian Ida Peranda berdua berdiam membuat Pura Dalem Kadewatan, Puser Tasik Batur dan Kentel Gumi, untuk wilayah Padanggalak. Hentikan dahulu.

Diceritakan kembali setelah beberapa lama Kyai Anglurah Agung Pinatih bertempat tinggal di Padanggalak, kembali direbut semut. Karena itu kembali beliau berpindah tempat menuju Alas Intaran ? Mimba semuanya. Tidak berapa lama disana, ada lagi cobaan dari Yang Maha Kuasa, ada ikan Aju datang dari tengahnya laut, semuanya terhempas ke pantai tidak terbilang banyaknya. Itu sebabnya kemudian orang di Intaran segera membuat tembok dengan pohon pepaya, diperintahkan oleh Kyai Anglurah Agung Pinatih. Memang merupakan cobaan dari Hyang Widhi, tembok itu ditubruk oleh ikan itu dihempas ? hempas? hingga rusak, itu sebabnya banyak bangkai ikan di tepi pantai sampai ke tengah hutan. Kemudian datanglah semut merebut bangkai ikan itu. Semakin banyak semut itu datang, serta ikan itu berulat, baunya sangat busuk. Itu sebabnya menjadi gundah orang disana, dan kelak kemudian hari tempat itu dinamai Ajumenang.

Karena semuanya merasa gundah, merasa tidak tahan dengan bau ikan yang sangat busuk itu, banyak anggota masyarakat yang ada di Intaran berpindah kesana kemari mencari perladangan. Ada yang mencari tempat di Kepisah, ada di Pedungan, di Tegal, di Glogor Carik, di Seminyak, memohon diri kepada Kyai Anglurah Agung Pinatih.

Karena demikian keadaannya, semakin masygul hati Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi, serta menyesali diri, karena sudah terlanjur menyampaikan pernyataan tidak baik, tidak boleh berkata sumbar, sangat berbahaya dikatakan, dan hal itu sudah menjadi bukti, buahnya dipetik sekarang.
Singkat ceritera, Kyai Anglurah Agung Pinatih, kemudian memohon diri kepada Ida Peranda berdua, akan beralih tempat ke wilayah Blahbatuh, semuanya dengan rakyatnya. Bagaikan bibit pepohonan yang besar yang ditimpa panas membara serta angin ribut rasanya, karena itu berpencar para putranya, juga saudaranya I Gusti Ngurah Anom Bang yang dipakai menantu oleh Ki Karang Buncing di Blahbatuh. Sejak saat itu putus pula hubungan pasidikara. I Gusti Blangsinga, pergi tanpa tujuan seraya membawa pusaka. Entah berapa lama berdiam di Blahbatuh, kembali ada semut yang datang, kembali beralih tempat dari sana menuju desa Kapal. Di Kapal, karena tempat disana sempit untuk banyak orang, sehingga bisa berjejal disana, maka Kyai Anglurah Agung Pinatih mengutus I Gusti Tembuku, I Gusti Putu Pahang serta I Gusti Jumpahi, untuk mencari tempat, yang kemudian pergi menuju ke arah timur, ditemuilah hutan perladangan yang cukup luas bernama Huruk Mangandang juga disebut Pucung bolong. Disebelah utaranya adalah wilayah Dewa Gede Oka dari Tama Bali dan sebelah timurnya adalah sungai Melangit namanya. Prihal tempat itu dipermaklumkan kepada I Gusti Ngurah Agung, kemudian dilanjutkan gotong royong membersihkan hutan tersebut. Dalam perjalanan merabas hutan ada tempat ditemukan salah satu yang agak angker, lalu ditempat tersebut dibangun tempat persembahyangan sekarang bernama Pura Dalem Agung, yang merupakan sungsungan Desa Adat.

Pada Utama Mandala? ada Pelinggih berjejer menghadap kebarat paling Utara disebut Pelinggih Dalem Muku, Dalem Pande dan Dalem Dura. Kemudian melanjutkan perjalanan keutara lalu menetap dan membangun tempat tinggal atau Puri termasuk juga membangun Tempat Suci atau Parhyangan, sebagai tempat untuk memegang wilayah dan parhyangan Sthana Ida Bhatara Kawitan. Tempat Pemujaan dulu bernama Pemerajan Agung Pinatih dan sekarang bernama

?Pura penataran Agung Pinatih? di puri Tulikup,

yang merupakan tempat tonggak sejarah yang harus diingat oleh seluruh warga besar Arya Wang Bang Pinatih.
Disamping itu Pura Penataran Agung Pinatih menjadi satu dengan Dang Kahyangan Pura Sakti pada Utama Mandala termasuk Pemedel Ageng juga satu. Sehingga menetap di Puri Tulikup bersama keluarga besar dan putra ? putri beliau berdua dikelilingi oleh rakyat serta sanak saudaranya. Sesudah baik keadaan Huruk Mangandang, sejak itu disebut dengan Pradesa Tulikup utawi Talikup dan sekarang bernama Desa Tulikup.

Diceritakan kembali I Gusti Ngurah Anom Bang yang dipakai menantu oleh Ki Karang Buncing, diputuskan hubungan pasidikaraannya oleh keluarganya, namun masih kokoh kuat natad ? membawa kalingan ? keluhuran beliau, sebagai warga Pinatih, walaupun sudah dipatah ? putuskan pasidikaraannya. Setelah berputera, kemudian I Gusti Ngurah Bang beralih tempat ke desa Batubulan, putranya masih di Blahbatuh. I Gusti Bang mengambil istri putri dari I Dewa Batusasih , mendapatkan putra, bernama I Gusti Putu Bun bertempat tingga di Batubulan, I Gusti Made Bun pindah ke desa Lodtunduh, ayahnya masih di Batubulan, didampingi oleh putranya yang lain bernama I Gusti Putu Bija Karang, adiknya yang bernama I Gusti Bija Kareng mengungsi ke wilayah Peliatan, Krobokan, juga adiknya yang dua lagi I Gusti Bawa serta I Gusti Bija bertempat tinggal di Dawuh Yeh serta Dangin We. Kemudian I Gusti Bawa pergi tanpa arah tujuan ke arah barat Er Uma membangun sanggar-kabuyutan yang bernama Pura Lung Atad. Ada juga sanak saudara beliau yang berpindah tempat menuju kawasan Gelgel, ada yang ke Karangasem berdiam di Bebandem.

Hentikan dahulu.

Ada ceritanya putra Ki Arya Bang Pinatih yang bernama I Gusti Ketut Bija Natih kemudian menurunkan Ketut Bija Natih, masih di wilayah Kerthalangu, menjadi pemangku di Dalem Kerthalangu, lalu ada yang berpinda ke arah selatan, ada di Bukit, ada di Jimbaran, di Ungasan serta Umadwi. Demikian ceritanya dahulu.
Entah berapa lama Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi memerintah Puri Tulikup bersama adiknya, ternyata kemudian pecah persaudaraannya dengan adiknya Kyai Anglurah Made Sakti. Halnya seperti dibawah ini.