Media Informasi & Komunikasi Warga Arya Wang Bang Pinatih

 Melarapang Mahasabha ka Pratama Ngiring Icapang Karaketan Pasemetonan lan Sradha Bhakti Warga Arya Wang Bang Pinatih Nyujur Jagadhita 

VII. 20. Dari Taensiat Ke Nagari

Singkat ceritera Kyai Ngurah Bun Pinatih sudah mendengar rencana balas dendam dari Puri Mengwi, jelas akan mendatangkan bala pasukan dalam jumlah yang besar. Kalau dihadapi jelas akan kalah. Kemudian beliau berpikir untuk tidak melawan, serta bersiap untuk meninggalkan puri, mengungsi ke wilayah Badung, bersama dengan anak cucu, besar kecil, serta rakyat semuanya, dengan mengusung Bhatara Kawitan semuanya seperti Siwapakaranaan serta pusaka I Keboraja beserta I Baru Upas.

Setibanya di Badung kemudian menuju Taensiat, rakyat beliau ditempatkan di Banjar Bun serta Banjar Ambengan. Ada yang beralih menuju Angayabaya, Jagapati, Angantaka, Sibang, Paguyangan. Ada yang mengungsi ke wilayah Pagutan, Negara, Pagesangan, Tamesi. Ada ke Tagtag Negara, Pangrebongan bersama I Gusti Tangeb, I Gusti Meranggi. I Gusti Meranggi pindah ke wilayah Sarimertha. Demikian ceritanya dahulu.
Diceritakan sekarang di Puri Bun, karena semua penduduk disana mengungsi ke wilayah Badung, maka keadaan disana menjadi sunyi, tak ada seorangpun kelihatan lewat. Setibanya pasukan Mengwi ditempat itu, maka dilakukan penyerobotan, dijarah semua milik Puri Bun serta milik rakyat disana. Sisa penjarahan adalah purinya, wantilan, merajan, pura, dan juga ada perumahan rakyat, semuanya dibakar habis diratakan sama sekali. Jenazah Cokorda Agung Mayun yang meninggal dan tertinggal di Puri Bun kemudian diambil dibawa pulang ke Mengwi.
Kembali diceritakan I Gusti Ngurah Bun di taensiat, para putra beliau sekarang ada yang pindah ke desa – desa lainnya, seraya memohon diri kepada ayahnya, seperti I Gusti Bun Sayoga ke Sigaran Mambal, I Gusti Ngurah Alit Padang mengungsi ke Karangasem, bertempat tinggal di Padangkertha. I Gusti Ngurah Teja mengungsi ke Denbukit. Ada putranya 3 orang, yang sulung I Gusti Teja – namanya sama dengan ayahnya, di Dawan Banjar, I Gusti demung menuju Timbul, Sukawati. Ayahnya I Gusti Ngurah Bun kemudian berpuri di Taensiat. Demikian dahulu.
Diceritakan I Dewa Karang berpuri di Banjar Tegal, beliau senang melakukan persembahyangan, disana di Dalem Pamuwusan namanya. Kemudian ada anugerah Ida Sang Hyang Widhi, beliau mendapatkan anugerah senjata dua buah. Itu sebabnya sangat suka cita I Dewa Karang, sangat percaya diri di hatinya.
Karena itu beliau bermaksud untuk mencari I Gusti Ngurah Made Bun di Puri Taensiat, agar turut serta berpuri di Banjar Tegal. Singkat ceritera, sangat senang hati I Gusti Ngurah Made Bun, demikian juga I Dewa Karang kemudian berjalan diiringi rakyatnya semua dengan membawa perlengkapan menuju Alas Kawos, namun putranya yang bernama I Gusti Ngurah Putu Wija diangkat atau kadharma putra oleh Kyai Pamecutan. Kemudian diceriterakan I Dewa Karang dan I Gusti Ngurah Made Bun bersama tempat tinggalnya kemudian menuju desa Kengetan.
Diceritakan I Gusti Wirya yang bertempat tinggal di Kengetan, dan juga di desa Singakertha, ditantang oleh I Dewa Karang dan I Gusti Ngurah Made Bun untuk berperang tanding. Akhirnya seperti keder hati I Gusti Wirya di Kengetan, kemudian beralih tempat semuanya serentak membawa perlengkapan di saat malam menuju desa Sigaran terus ke Melanjung.
Sejak itu kemudian desa Kengetan, Jukutpaku, serta Singakertha dikuasain oleh I Dewa Kaarang. Karena keberhasilan itu, kemudian I Dewa Karang beserta I Gusti Ngurah Made Bun membuat puri di Karang Tepesan sampai kepada rakyatnya semua.
Entah berapa masa sudah berpuri disana, ada usulan dari I Gusti Ngurah Made Bun agar membangun Puri yang baik dan indah, sebab keadaan sudah membaik, terus dinamai wilayah Negara. I? Gusti Ngurah Made Bun membangun puri dinamai Puri Negari.
I Dewa Karang mempunyai janji dengan I Gusti Ngurah Made Bun agar bersuka duka berdua, dan semoga terus sampai ke keturunannya nantinya. Demikian inti perbincangan I Dewa Karang serta I Gusti Ngurah Made Bun, semuanya merasa suka cita.
Diceritakan Ida Peranda Nyoman Padangrata yang pernah menjadi pendeta atau Bagawantah Ida Ngurah Bun sudah berpindah dari wilayah Bun, diikuti oleh putra serta isteri menuju desa Kutri, sewilayah dengan Negara. Banyak rakyat I Dewa Karang ada di Kutris diberikan kepada Ida Peranda. Demikian halnya di masa lalu, dicantumkan dalam pariagem.
Dilanjutkan sekarang purtra I Gusti Ngurah Made Bun di Negari semua sudah diandalkan oleh I Dewa Karang yang berkuasa di Negara. Putra I Gusti Ngurah Made Bun yang paling sulung bernama I Gusti Ngurah Gde Bun atau I Gusti Ngurah Mawang berpuri di Negari, I Gusti Anom Angkrah di Banjar Tunon, I Gusti Ketut Alit Bija bertempat tinggal di Kutri, I Gusti Ngurah Tangeb mmasih di Mawang, serta wanita I Gusti Ayu Oka juga di Negari. Semuanya memiliki jiwa keperwiraan masing – masing. Demikian keadaannya.
Diceritakan sekarang yang menjadi penguasa wilayah Gianyar bernama Ida I Dewa Manggis, memberi perintah kepada I Dewa Karang agar para putra Anglurah Bun Pinatih menjadi pengokoh wilayah Gianyar, paling utama mengawasi Tegal Pangrebongan. Kesimpulan perbincangan itu agar putra Ngurah Bun yang bernama I Gusti Ngurah Tangeb, yang memamng keturunan Pinatih, itu yang mengawasi di Pangrebongan, diberikan rakyat 200 orang. Demikian dicatat di Pariagem.
Juga diceritakan Ida Bang Pinatih memiliki keturunan yang bernama mangurah Guwa dan Mangurah campida. Keduanya, ketika masa kerajaan Gelgel atau Sweca Linggarsa Pura, ada di lingkunga Ida Dalem. Namun ketika masa pemberontakan I Gusti Agung Maruti, terjadi huru – hara, maka sanak keturunan beliau berdua meninggalkan Gelgel, ke arah timur perjalanannya, serta kemudaian berdiam di desa Gunaksa. Disana membangun kahyangan dinamai Pura Guwa. Tujuannya agar diketahui oleh keturunannya sebagai keturunan Mangurah Guwa. Demikian tercatat dalam prasasti, tentang keadaan Sira Mangurah Guwa.
Diceritakan pula di kemudian hari mendapatkan panjang umur keturunan Mangurah Guwa, ada yang pindah ke desa Timhun, sanak saudara yang lain menuju desa Aan. Ada juga yang meninggalkan desa Gunaksa yang menuju desa Akah, Pagubungan Manduang serta Nusa Penida.
Demikian kisahnya Mangurah Guwa dan Mangurah Campida.
Dan demikian pula kisah tentang keberadaan sanak keturunan Ida wang Bang Banyak wide yang kemudian menjadi warga Arya Wang Bang Pinatih di seluruh pelosok Pula Bali.