Media Informasi & Komunikasi Warga Arya Wang Bang Pinatih

 Melarapang Mahasabha ka Pratama Ngiring Icapang Karaketan Pasemetonan lan Sradha Bhakti Warga Arya Wang Bang Pinatih Nyujur Jagadhita 

VII. 19. Puri Bun Diserang Oleh Mengwi

Diceritakan sekarang, tidak bagitu lama keadaan ini aman, kemudian tiba masa Kalisengsara – kekacauan, dan ternyata marah besar Ida Cokorda Maun di Mengwi berkehendak menyerang I Dewa Karang yang ada di Puri Mambal.
Karena demikian didengar oleh I Dewa Karang, beliau berbincang dengan ipar beliau di Puri Bun. Setelah selesai bertukar pikiran, maka kembali pulang dengan tidak merasa sak wasangka lagi. Singkat ceritera, pasukan Mengwi sudah datang menyebabkan penuh sesak mengitari. Puri Mambal sudah dipenuhi oleh para putra Mengwi, dipimpin oleh Cokorda Mayun. Setelah dikelilingi puri Mambal itu, sangat duka hati I Dewa Karang, kemudian keluar ke depan Puri itu. Yang sebenarnya diandalkan oleh Puri Mengwi hanyalah pasukan Bun. Dan teryata yang mengitari Puri I Dewa Karang juga? hanya pasukan Bun. Karena itu I Dewa Karang dapat disembunyikan oelh pasukan Bun di tengah – tengah mereka. Menjadi takjub ppasukan Mengwi, heran dengan kesaktian I Dewa Karang yang hilang tidak ada di puri, karena sudah diungsikan – diamankan oleh pasukan Bun. Itu sebabnya pulanglah pasukan Mengwi tanpa hasil. I Dewa Karang kemudian mencari saudaranya yang berdiam di Banjar Tegal wilayah Tegalalang yang bernama I Dewa Bata.
Sesudah lama, tahulah Ida Cokorda Mayun akan tipu muslihat I Gusti Ngurah Made Bun, yang menyebabkan hilangnya I Dewa Karang karena diapaki menantu oleh Anglurah Bun. Penguasa Mengwi kemudian menyuarakan kentongan agung, serta kemudian berangkat Cokorda Mayun beserta balanya semua, akan merusak dan merebut Kyai Naglurah Bun. Bila saja berani dalam medan perang, akan dihabiskan sampai anak cucu Anglurah Bun.
Singkat ceritera, pasukan Mengwi semuanya sudah berangkat menuju puri Bun. Sesampainya di Bancingan Puri Bun, kaget Kyai Ngerurah kemudian memukul kentongan bertalu – talu, serentak rakyatnya semua laki maupun perempuan membawa senjata. Disana kemudian berkecamuklah perang itu, saling amuk, setapakpun tidak mundur, bersorak saling ejek, saling tantang, saling tusuk, saling penggal, saling banting, sama – sama tidak mengenal mana kawan mana lawan, sehingga kemudian peperangan itu sampai ke Puri Bun. Tak dinyana kemudian Cokorda Mayun, sebagai pucuk pimpinan pasukan Mengwi wafat, dapat ditusuk oleh Kyai Nglurah Bun. Serta kalahlah pasukan Mengwi. Jenazah Cokorda Mayun, diceritakan masih di Bun. Kemudian banyak rakyat Mengwi yang masih hidup, kembali ke Mengwi, ada yang langsung menghadap I Gusti Agung Made Munggu, adik Ida Cokorda Mayun yang wafat di Bun. Itu sebabnya murka I Gusti Agung Made Munggu, seraya memerintahkan semua anggota keluarganya untuk menyerang Anglurah Bun. Kemudian berangkat bala pasukan Mengwi dari Munggu dan Mengwi seraya membawa senjata. Di Lambing para putra Mengwi mengadakan pembicaraan. Kesimpulan pembicaraan itu, pasukan akan dibagi dua. Dari barat, sebagai pimpinan pasukan I Gusti Agung Made Kamasan dari Sibang serta I Gusti Agung Jlantik dari Penarungan, serta dari utara, bala pasukan disana mengiringi I Gusti Agung Made Munggu.